Satu waktu seorang teman, bukan kekasih, hanya teman yang tidak begitu kukenal, namun cukup mengetahui keberadaannya, menghubungi, sekedar ingin bertemu dan bercengkerama, walau tidak lama, namun cukup untuk mengobati rindu dan mengungkap cerita. Aku terpana mendengar antusiasnya dari seberang sana. Kusambut dengan segenap raga dan hati yang telah lama terkoyak, kusongsong keinginan yang tulus itu dengan membuka kedua tangan dan hati untuknya. Hanya yang terbaik dari diriku yang kuberikan padanya.
Usai berucap kata, aku terdiam dalam hingar bingar suara tivi yang tiada berhenti memberitakan musibah di Padang. Pikiranku terlalu sibuk merajut kejadian yang berlangsung spontan dan penuh dengan magnit, yang menarikku untuk kembali merasakan selembar bahagia, setengah haru, separoh haru. Bagaimana sang teman begitu polos dan tulus mengingat keberadaanku, yang aku sendiripun tidak tahu lagi dimana berpijak.
Seorang yang kupanggil sahabat, dengan segenap cinta dan perhatian kucurahkan tanpa batas waktu, tanpa tembok pemisah, terbuka dan lapang, yang kini dalam perantauan tak tentu rimba, sempat pula mampir ke kota ini. Jangankan dia menyapa, melongokpun dia tidak sempat. Dengan suhu sedingin gunung es, dia melewati, dengan menegadahkan kepalanya tinggi-tinggi, melangkah pasti, seakan tidak pernah seumurnya berpapasan denganku, apalagi mengenal. Walau banyak cerita, sarat peristiwa yang terjadi diantara kita. Aku kemudian bertanya pada diri yang bengong tak percaya, betulkah kita pernah bersama mengarungi waktu, menghiasinya dengan berbagai kejadian dan rasa dihati? Inikah orangnya ataukah keberadaannya hanya sebuah ilusi yang mulai mengering. Apakah dia sungguh pernah menghias hatiku dengan bunga anggrek, menaburkan berjuta bintang yang berkelip untuk menerangi jiwa yang kering ini? Kini, menyapapun tak sudi, menengokpun terasa gerah dan berat.
Aku telah dibuang sebagaimana limbah. Aku yang hanya terdiri dari puing-puing akibat terkikisnya harga diri, tidaklah diperlukan lagi. Biarkan sisa-sisa saripati berserakan di pasir, tertelan pusaran hidup dan hilang tak berbekas. Sakitkah? bohong bila aku mengatakan tidak, walau berjubel kerabat mengobati sang luka. tidak ada lagi manis tutur kata yang lembut. Biarlah sakit ini terasa menancap dalam kerelung hati. Hanya aku yang mendapat kesempatan dan merasa terhormat menikmati kesakitan hati yang hampir tak tertahankan. Janagan aku sekali-kali memperlakukan orang lain sebagai sampah. Jangan sampai terjadi. maka detik kehancuran pelan dan sakit kukumpulkan, ku tata dengan sebisanya, berharap akan menjadi bangunan yang kokoh, tahan terhadap segala situasi.
Jiwaku sungguh menangis akan kehilangan dan kematian cintanya. Hatiku tercabik dengan kasar bermateraikan kegagalan, sebagai perisai melawan kehancuran diri, hati dan jiwaku.
menarilah kau diatas segala kesedihan yang kutumpahkan karena kehilanganmu. Menyanyilah dalam balutan dan pelukan mimpi ….Melangkahlah pada cita karya terbaikmu sebagai hadiah yang nanti akan kau persembahkan pada sang Pencipta.
KOMENTAR