penghianatan seorang sahabat

7 10 2009

Satu waktu seorang teman, bukan kekasih, hanya teman yang tidak begitu kukenal, namun cukup mengetahui keberadaannya, menghubungi, sekedar ingin bertemu dan bercengkerama, walau tidak lama, namun cukup untuk mengobati rindu dan mengungkap cerita.  Aku terpana mendengar antusiasnya dari seberang sana.  Kusambut dengan segenap raga dan hati yang telah lama terkoyak, kusongsong keinginan yang tulus itu dengan membuka kedua tangan dan hati untuknya.  Hanya yang terbaik dari diriku yang kuberikan padanya.

Usai berucap kata, aku terdiam dalam hingar bingar suara tivi yang tiada berhenti memberitakan musibah di Padang.  Pikiranku terlalu sibuk merajut kejadian yang berlangsung spontan dan penuh dengan magnit, yang menarikku untuk kembali merasakan selembar bahagia, setengah haru, separoh haru.  Bagaimana sang teman begitu polos dan tulus mengingat keberadaanku, yang aku sendiripun tidak tahu lagi dimana berpijak.

Seorang yang kupanggil sahabat, dengan segenap cinta dan perhatian kucurahkan tanpa batas waktu, tanpa tembok pemisah, terbuka dan lapang, yang kini dalam perantauan tak tentu rimba, sempat pula mampir ke kota ini.  Jangankan dia menyapa, melongokpun dia tidak sempat.  Dengan suhu sedingin gunung es, dia melewati, dengan menegadahkan kepalanya tinggi-tinggi, melangkah pasti, seakan tidak pernah seumurnya berpapasan denganku, apalagi mengenal.  Walau banyak cerita, sarat peristiwa yang terjadi diantara kita.  Aku kemudian bertanya pada diri yang bengong tak percaya, betulkah kita pernah bersama mengarungi waktu, menghiasinya dengan berbagai kejadian dan rasa dihati? Inikah orangnya ataukah keberadaannya hanya sebuah ilusi yang mulai mengering.  Apakah dia sungguh pernah menghias hatiku dengan bunga anggrek, menaburkan berjuta bintang yang berkelip untuk menerangi jiwa yang kering ini? Kini, menyapapun tak sudi, menengokpun terasa gerah dan berat.

Aku telah dibuang sebagaimana limbah.   Aku yang hanya terdiri dari puing-puing akibat terkikisnya harga diri, tidaklah diperlukan lagi.  Biarkan sisa-sisa saripati berserakan di pasir, tertelan pusaran hidup dan hilang tak berbekas.  Sakitkah? bohong bila aku mengatakan tidak, walau berjubel kerabat mengobati sang luka.  tidak ada lagi manis tutur kata yang lembut.  Biarlah sakit ini terasa menancap dalam kerelung hati.  Hanya aku yang mendapat kesempatan dan merasa terhormat menikmati kesakitan hati yang hampir tak tertahankan.  Janagan aku sekali-kali memperlakukan orang lain sebagai sampah. Jangan sampai terjadi. maka detik kehancuran pelan dan sakit kukumpulkan, ku tata dengan sebisanya, berharap akan menjadi bangunan yang kokoh, tahan terhadap segala situasi.

Jiwaku sungguh menangis akan kehilangan dan kematian cintanya.  Hatiku tercabik dengan kasar bermateraikan kegagalan, sebagai perisai melawan kehancuran diri, hati dan jiwaku.

menarilah kau diatas segala kesedihan yang kutumpahkan karena kehilanganmu.  Menyanyilah dalam balutan dan pelukan mimpi ….Melangkahlah pada cita karya terbaikmu sebagai hadiah yang nanti akan kau persembahkan pada sang Pencipta.





Kata Perpisahan

7 10 2009

Suatu waktu kita saling menyapa

Merajut menit mengucap kata

Ada senyuman, menyungging indah di bibir

Menggelayut dalam asa, sebatas pikir

Ada waktu kita bisu berkata, menyapa

Walau kadang hati saling menggoda

Keangkuhan hati menabuh riuh

Terlewati masa melintas kalbu

Kini tersadar begitu fananya cinta

Sewaktu hadir menggelora

Semasa sirna di telan amarah

Di kesunyian berlayar pelan

Menuju tujuan tak bertuan

Semu seakan semua canda tawa

Samar mata tak lagi menawan

Berpacu, bergelora dalam angan dan cita

Pudar sosok menjelma bayang

Pelan menghilang, namun tetap melekat

Sebuah mimpi akan canda tawa dan curahan hati

Terhempas bagai seonggok sampah tak  berguna

Terbuang jauh dalam dasaran samudra tak bertepi

Meratap, hanya ada luka

Merenung, tinggal sang angan

Rindu bertabur benci,

Membendung misteri dari sebuah hati





Ilusi Nyata

11 07 2009

Hati menerawang kesudut hampa

Terjerat di sekelumit kenangan, melukis senyum

Dalam realita, menyakitkan

Tanpa ingatan, melepas angan

Dalam nyata, kau melebur bersama ombak

Perlahan berlalu dan sirna

Seakan semua adalah hanya ilusi

Tak berujung, tak berpangkal

Hanya sebuah mimpi yang tak ingin terjaga

Namun pelan berlalu dan menjadi hambar tak berasa





NESTING

8 12 2008

Kemegahan bangunan dan suatu institusi adalah dapat menjadi salah satu alasan untuk berkelakuan arogan dan otoriter yang tidak semestinya, terlepas dari karya yang mereka lakukan.  Suatu bentuk lain daripada ego manusia yang sungguh merupakan suatu tantangan yang paling berat untuk ditundukkan.  Filosofi padi begitu banyak dikagumi orang, namun begitu sedikit manusia dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, walau banyak orang yang tahu tentang egoisme yang menghancurkan, namun semua itu hanya merupakan pengetahuan yang tidak dapat dipraktekkan dalam tingkah laku.

Saat orang begitu menikmati otoriter yang dipunyainya di dalam lingkup kuasanya, maka sangat tampak ke-”aku”annya yang begitu besar. Kesombongan yang melambung tinggi, tidak terbatas. Telinga yang tertutup untuk mendengar, apalagi mendengarkan, terkesan tuli, walau secara medis tidaklah demikian.  Lebih parah lagi, menganggap semua orang yang berada dilingkup itu adalah orang yang harus mendengarkan segala perintah, tanpa lagi mempedulikan lagi keberadaaan orang tersebut.  Sayangnya, hal itu dilakukan sang penguasa biasanya hanya di lingkup kekuasaannya (zona aman). 

Apabila dia keluar dari lingkungannya, maka dia biasanya menjadi sangat tidak aman, takut (insecurity) yang berlebihan. Hal tersebut di atas, biasanya dikenal dengan nama NESTING.  Latar belakang yang menjadikan seseorang “over-otoritas” dilingkungannya, menjadi orang yang sungguh tidak menyenangkan (pahit, bitter), menurut para pakar psikologi harus dilihat dari beberapa aspek backgroundnya. Ada yang melakukan itu karena beberapa pengalaman, seperti : masa kecil yang pahit, patah hati, ditinggal oleh tunangannya saat mereka mempersiapkan pernikahan yang kurang dari beberapa waktu, dsb.  Sehingga mereka cenderung bagaikan batu dan senantiasa pahit dalam menjalani hidup ini. Tanpa senyum, tanpa tawa…hambar semua yang ada disekitar dia. Biasanya mereka tidak dapat bergaul dengan baik. Mungkin juga dunia dilihatnya hanya dengan satu warna, yaitu abu-abu.

Saat kehidupan membawa saya pada pengalaman dengan orang seperti itu, yang kejadiannya di Bandung, sempat juga membakar emosi yang tertahan, namun ada keinginan untuk mengetahui latar belakang orang yang saya pandang “aneh” dan tidak proporsionil di dalam memposisikan dirinya. Ternyata dari informasi yang saya dapatkan adalah bahwa orang tersebut pernah sakit hati dan malu yang besar karena ditinggal orang yang dicintainya menjelang pernikahan mereka. Pastilah bukan pengalaman yang menyenangkan baginya.  Namun, dalam perjalanan hidupnya yang telah melampaui 50 tahun, sebenarnya banyak kesempatan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk dia mengolah kesakitan dan rasa malu yang di bawa di atas pundaknya menahun.  Andai dia mengolah dengan segala daya dan dari fasilitas yang ada di tempat dia “bersarang”, maka dia pasti akan menjadi manusia yang jauh lebih baik sebelum dia dikecewakan dan dipermalukan oleh orang yang dicintainya.  Apalagi jalan hidup yang dipilihnya adalah menjadi single yang mendedikasikan hidup pada suatu agama.  Namun sayang, dia tidak menyadari itu, dia tidak berusaha (mungkin) dan semakin usia menyengat, semakin pahit dan sulit pribadinya terhadap orang lain yang hidup disekitarnya.  Dan tanpa disadari dia akan menjadi “beban”, “salib” bagi para juniornya yang satu waktu harus hidup dan mengurusnya saat usia telah uzur, tenaga tidak lagi mampu untuk menyanggah lukanya.  kasihan dia!





SEJARAH – sebuah pemikiran

30 11 2008

Seorang pakar sejarah mengatakan,”Everyone has a history.”  Adalah benar apa yang disampaikannya, permasalahannya adalah, apakah setiap orang atau kelompok menyadari hal itu dan kemudian merespons sejarah, baik sejarah pribadi, keluarga, maupun nasional.  Tidak banyak orang yang bersedia untuk sekedar menengok kebelakang.  Kadang ada perasaan traumatik atau ketakutan untuk sebagian besar individu atau kelompok saat mereka mencoba melongok kembali ke masa lalu.  Keadaan ini mungkin juga merupakan salah satu kendala besar dalam perkembangan sejarah Indonesia, walaupun pada masa era reformasi sudah banyak diterbitkan buku yang mengulas berbagai kejadian masa lampau di negeri tercinta dari berbagai era dan aspek. 

Ditengah banyaknya buku dan sumber lain yang berusaha menggali kembali peristiwa maupun individu pelaku sejarah, namun tidak sedikit juga yang bersikap acuh dan berpendapat bahwa walau hanya sekedar “mengetahui” sejarah adalah sesuatu yang sia-sia dan membuang waktu, jangankan mempelajari ataupun mendalaminya.  Banyak orang mempunyai pemikiran bahwa sesuatu yang telah berlalu tidak perlu lagi diketahui atau diingat lagi, padahal banyak hal yang terjadi di dunia ini adalah merupakan ulangan kejadian dalam formasi yang berbeda, namun sering hal yang prinsipil adalah sama.  Maka dengan mengetahui sejarah, kita dapat memperoleh solusi yang baik dari referensi kejadian yang lalu.  Bukankah para bijak mengatakan bahwa “Pengalaman adalah guru yang baik?”

Contoh yang aktual adalah krisis ekonomi global sekaran yang terjadi, yang juga merupangan pengulangan sejarah dari krisis moneter tahun 1997,depresi ekonomi global yang pada tahun 1930.  Sehingga krisis ekonomi, apapun namanya bukanlah barang baru bagi dunia yang telah begitu renta ini. 

Sejarah Indonesia yang telah banyak dinodai dan di rubah oleh penguasa negeri ini, yang dinamakan sebagai “kebohongan sejarah” olah para sejarahwan, telah pula membuat masyarakat berpaling untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi.  Bahkan di dunia pendidikan dari berbagai tingkat, pelajaran sejarah merupakan  mata pelajaran “anak bawang” yang tidak diikutkan dalam Ujian Akhir Nasional.  Hal seperti ini mengakibatkan para generasi muda Indonesia semakin miskin akan pengetahuan sejarah Nasional pada khususnya dan sejarah Indonesia pada umumnya.  Keadaan tersebut di atas merupakan keprihatinan tersendiri bagi para sejarahwan dan permerhati sejarah.

Berbagai usaha dilakukan oleh mereka, baik melalaui penulisan buku yang di jual bebas di toko buku, mengadakan simposium, seminar serta hal lainnya dalam upaya menumbuhkan ketertarikan dan kepedulian terhadap sejarah, seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh sosok permerhati sejarah, KRMH Daradjadi Gondodiprojo, yang menerbitkan bukunya berjudul PERANG SEPANJANG 1740-1743, Pasukan Cina-Jawa lawan VOC, sebagai bentuk kecil sumbangsih pada negeri tercinta ini, demi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. 

 

img_9607xs





LIRIH – Chrisye

6 11 2008

Kini tlah kusadari
Dirimu tlah jauh dari sisi
Ku tau tak mungkin kembali kuraih
Semua hanya mimpi
Ingin ku coba lagi
Mengulang yang telah terjadi
Tetapi semua sudah tak berarti
Kau tinggal pergi

Reff
Adakah kau mengerti kasih
Rindu hati ini
Tanpa kau disisi
Mungkin kah kau percaya kasih
Bahwa diri ini
Ingin memiliki lagi

Kusadari kembali
Ternyata semua khayal diri
Kini ku tau tak mungkin ada waktu
Untuk mencintaimu lagi

Back to Reff
Mungkinkah kau percaya kasih
Bahwa diri ini
Ingin memiliki lagi
Mungkinkah kau percaya kasih
Bahwa diri ini
Ingin memiliki lagi





BERBAGI

4 11 2008

Beban yang di bawa bertahun, melunglaikan tulang, meletihkan raga dan sukma. Pelan kusandarkan sedikit demi sedikit sobekan tanda aus beban yang dipanggul menahun, sembari menghempaskan debu-debu tebal yang melekat termakan usia dan waktu.

Sobekan dan serpihan dikumpulkan, di bagi dalam bentuk suatu cerita pada turunan kesatu. sekuat hati dapat berlayar di samudra luas yang tak bertepi.  Sejauh yang dapat ditempuh, sedalam yang mampu terselami, sebanyak yang dapat di tangkap.

Saatnya berhenti berprosa, untuk menghela nafas panjang, mengisi relung paru yang kering. Sejauh dapat diberikan untuk membagi, sebagai satu alur yang tak tertata oleh indahnya alunan bahasa. Kembali pada realita yang semoga dapat menyemangati dan memperbaharui kelelahan iman, hati serta pikiran.

Segala terhenti sejenak untuk menghirup udara, untuk mengosongkan sukma, meniti hati yang terluka dalam, merenung. 

Aku adalah hasrat yang kasat mata, meraung dalam deruman mesin membawaku kembali dalam permenungan.  Indahnya berbagi….Sejuknya berbagi………………………………





SHE’S OUT OF MY LIFE

16 09 2008
This time she really have to go away
I hope she’ll leave silently, without a sound
If not, I will ask her to stay a little longer…
which is not possible




Measure of Love

16 09 2008

MeasureOf Love

The measure of love is when you love without measure.

In life, there are very rare chances that youll meet the person you love and loves you in return.

So once you have it dont ever let go, the chance might never come your way again.

Its better to lose your pride to the one you love, than to lose the one you love because of pride.

We spend too much time looking for the right person to love or finding fault with those we already love, when instead we should be perfecting the love we give.

When you truly care for someone, you dont look for faults, you dont look for answers, you dont look for mistakes.

Instead, you fight the mistakes, you accept the faults, and you overlook the excuses.





WHEN EGO RULES

14 09 2008

Virus of trojan visited my two computers, what a drag and problem, it is like the whole world running down on me. can’t sleep, can’t eat, panicking of saving my files, my pics. Can’t help to swear to the misfortune i had. my external harddisk’s adaptor blow up..everything on that sunny sunday just went wrong. nothing was right every corner of my life. i hate when life plays game the little jokes on me. Everyone in my family was not having a good and friendly smiles or hellos from me. All the lesson of life gone in that second. i was a nightmare for everyone, likewise they are demons of my day.

Afternoon went by with exhaustians and panicking. I almost finished backing up my files that seems endless. There were still few left undone because of the adaptor didn’t work on my harddisk. oh… From nowhere the calmness enter my heart and mind, I started to accept the disaster that paid a visit to me, senses return to me, asking myself, why if I had to lost all my files and folder, my pictures? I still can take lots of pictures on this lifetime and lots more will come. But if i had succeeded to save most of them, isn’t it a good thing too? i had done my best and managed. The teachings of acceptance had returned to my senses and all I can do is feeling ashamed of my anger I threw this morning to everyone around me, yet there are no words of sorry come from my lips to all of them. It is truly a cowardise action. It is true I can be so good in theory of life, but yet still far out for practising it, maybe I can never succeed anyway. I realized that there are never enough to learn about life and human’s behaviour when they are facing problems and disaster. The reflects of embracing the problem they are facing are various, most of time with furious and burning fire, boiling up to top in their mind and hearts. The ego would definitly took place and became the first priority to throw out the emotion, negative energy to their surroundings. This is what I called Ego Ruled.

Lots of time, we can easily speaking about our understanding about handling our egos, but under circumstances we meant to forget about the knowledge of pressing the ego, it happened when we are in troubled, spent too much money, upset over something or when we are happy, although we acknowledge it is the ego calls, but yet deliberately we follow it, because we wanted to fulfilled our “wants”, we thought that it is essential at that moment. We want the whole world to understand our sadness or happiness and wanting to transform whatever feeling we had on that moment as other’s obligations to be there with us. But when the emotion was over, our temperature cooling down, we started to see the uglyness we had done and said. We might felt so tired and restless because of the tension we created. All we did is just to lie down and think nothing, perhaps feeling sorry about our previous behaviour and trying to make it up by being nice to the people we hurt during our exposure of the ego and emotions, our wants.

What i wrote above can happen to everyone of us, regardless our status, it is very human, yet it is so disturbing, more create self destruction to a bitter person all time if we failed to acknowledge it. We will end up become a very unpleasant personality and loosing lots of opportunities to relate to others because of our bitterness that often leads to unfairness to others that leads to our lost, not theirs.

This is what happened to recent times to me and i feel the need to share with you about it generally, as my acknowledgement of own ego, where i can’t control my wants against my needs. Next time when I have to face the same unpleasant in my days, I hope that I will be more responsible to distinguish between my wants (ego) and my needs (spiritual) and be more mature in dealing with ego. And next time, I can be more acceptance to whatever come to my life. That is what I called “mature, adult.”